Senin, 25 Agustus 2014

Ibunda

Ibunda


Tangan itu sedikit gemetar….. menjangkau gelas minum di meja .. ,Lalu beliau berkata lirih … “CIL ambilkan ibu obat.. di kamar .. “. Aku bergegas lari ke kamar  ibu dan mengambil se tas obat obatan  dan membukakannya untuk ibu ..  beliau meminumnya  lalu seperti biasanya beliau tersenyum..

Gurat-gurat keriput semakin  nampak  di pipi .. tapi senyum selalu mengembang .. 

Ibunda  sekarang harus tertatih kalau berjalan …  dan sering merasa capek…  tapi senyumnya selalu mengembang .. begitu melihat cucu–cucunya bermain dan berlonjak–lonjakan kesana kemari mengganggu tidurnya ,.  sesekali ibu  mengingatkan “awas hati-hati .. ! “ . seperti nya sudah cukup senang melihat mereka bermain..

Ibunda punya tempat duduk tersendiri di rumah ..kami menyebutnya singgasana ibu … hehehe .. tempat favorit ibu di depan televisi.  Semua harus bergeser dari singgasana ibu kalau ibu ingin nonton bersama kami..   “ geser Cil …duduk di sebelah sana … !” .. hehehe…  lalu perintah selanjutnya .. “pijitin ibu.. pegel pegel nih … “ .. dan seperti biasa aku duduk di tangan singgasana ibu .. dan mulai memijit ibu .. sambil kami bercerita .. segala macam rupa ..  , terkadang mengenang Almarhum ayahanda dengan menceritakan gaya senyum ayah yang selalu sedikit memiringkan kepala .. dan  memberikan wejangan-wejangan  kepada kami sambil minum teh … 

Ibunda masih semangat seperti dulu … selalu menunjukkan senyum .. walau badan sudah termakan usia. Ibunda masih selalu mengingatkanku walau aku sudah berkeluarga dan  memiliki anak . 

..  bunda masih semangat di dapur .. melihat kami memasak .. bagi kami bunda adalah Masterchef .. masakannya muantab … gak ada lawan …  hemmm… kakak kakak ku semua jago masak … mendapat warisan ilmu dari bunda .. kecuali satu orang .. hahahaha wo ji.. kakak ku tertua… .  kami semua diwariskan ilmu dapur oleh ibunda …  ketika ku Tanya “ buat apa bu.., belajar masak … “ ibu menjawab .. “ buat nanti kalau kalian merantau.. “ .. wah ternyata memang berguna .. ilmu ini ketika aku harus ke Indonesia timur… “ thanks mom.. “

Bunda masih selalu tersenyum … senyum itu menyejukkan hati kami,  senyum itu obat yang paling mujarab bagi kami …  Senyum itu semangat kami …
Terimakasih Ibunda ….

Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo”
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”


Kamis, 17 Juli 2014

Do'a untuk orang tua..



Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

 Do’a ini terucap dari mulut kecil anak laki-laki ku Rizki Maulana Ardi dengan mata sedikit terpejam sebelum dia tidur, dan tak lama kemudian dia terlelap. Kupandangi dia nafasnya teratur satu-satu .

Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” Do’a yang demikian melekat pada kita dan selalu menjadi bagian pelajaran pertama yang diberikan orang tua kepada anaknya.

Teringatku akan wajah ayah dan ibu  yang selalu tersenyum ketika itu mengajarkan dan menanamkan do’a ini kepadaku.
Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” 
Mendengar do’a ini diucapkan anakku betapa senang hatiku.

 “sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” Berulang-ulang kuyakinkan penggalan arti do’a itu. “sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. 
Akhirnya muncul tanya padaku apakah sudah kudidik anakku dengan baik?  .
Karena disitu ada kata “sebagaimana” yang merupakan ukuran. 
Do’a yang diucapkan anakku memberikan ukuran pada permintaan yang disampaikan kepada Allah “sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”  

Terpekurku berusaha memahami lebih dalam dan semakin ku yakin tidak sesederhana itu maknanya. Do’a itu ternyata menuntut tanggung jawab orang tua kepada anaknya , Allah itu maha adil tidak ada keraguan atas keadilannya Allah pasti membalas apa yang orang tua kepada anaknya juga pasti sangat adil.  

Jika aku berbuat dzolim pada saat aku mendidik anakku apakah aku akan mendapat balasan yang tidak adil dari Allah ?

Akhirnya sedikit ku balik cara pandangku , yang selalu menceritakan betapa besar jasa orang tua kepada anak,  menjadi seberapa besar jasa orang tua yang telah diberikan kepada anak. 

Ternyata do’a ini bukan hanya untuk anak sehingga mengingat jasa orang tua , ternyata do’a ini seharusnya menjadi motivasi kepada orang tua untuk mendidik anaknya sebaik-baiknya. Sehingga Allah akan memberikan balasan yang seadil-adilnya.

Astaghfirullah hal adzim ampunkanlah kami ya Allah.

KEGUNDAHAN HATI UNTUK NEGERI



INDONESIA TANAH AIR BETA
PUSAKA ABADI NAN JAYA
INDONESIA SEJAK DULU KALA
TETAP DI PUJA –PUJA BANGSA
DI SANA TEMPAT LAHIR BETA
DI BUAI DI BESARKAN BUNDA
TEMPAT BERLINDUNG DI HARI TUA..
SAMPAI AKHIR MENUTUP MATA

Sayup –sayup kudengar lagu Indonesia Pusaka di televisi , sudah puku 01.00 rupanya , mataku tidak mau kupejamkan , akhir –akhir  ini kulihat perubahan di Negeriku ini … tidak ada lagi sapa dan senyum setiap pagi mengembang. Hampir setiap hari kubaca dan kudengar caci maki . sungguh mahal  pengorbanan untuk sebuah perubahan .

Setiap kali aku berbincang selalu ada tambahan dosa yang secara tidak disadari ku lakukan.  Ya Allah “Negeri ku ini menjadi penuh kecurigaan !’

Baru kali ini aku mengikuti Pilpres yang diikuti hampir seluruh pemilih Indonesia.  Suatu kemajuan yang luarbiasa  , tidak ada lagi “Golput” ,  semua antusias untuk memilih.  “Alhamdulillah !” , akhirnya penduduk negeriku ini menyadari betapa pentingnya untuk memilih .

Namun semangat untuk memilih belum diikuti dengan rasa menghargai sebuah pilihan oleh orang lain , yang muncul adalah semangat untuk “menang” semangat untuk mengalahkan dan menyalahkan . ingat! Jika hanya ada satu pilihan sebetulnya tidak perlu ada pemilihan …

Negeriku ini dulunya bisa menyelesaikan masalah dengan makan pinang bersama “sekapur sirih “ betapa sederhananya duduk bersama memperbincangkan masalah .

Negeriku ini dulu terkenal dengan keramah-tamahan,  saling bantu, gotong royong ..  Tapi akhir-akhir ini mata saling menatap curiga , mulut mencaci  …. Sudah hilang kah  ‘Rasa untuk saling menghormati ?”

Negeri ini perlu Persatuan untuk bisa menjadi negeri yang besar … perpecahan bukan lah hasil yang diinginkan dari sebuah pemilihan Presiden . perpecahan adalah awal dari sebuah kehancuran Negara  ….

Aku tidak ingin Nama negeri  ini menjadi sebuah sejarah yang di tulis dalam buku pelajaran sejarah,  bahwa dulu  ada negeri yang bernama Indonesia , aku ingin anak dan cucu cucu ku masih hidup rukun dan makmur di negeri yang masih  bernama  “Indonesia” .

Mataku semakin berat seberat gundah hatiku ini akan kelanjutan negeriku  , tak sadar mengalir air mata , sembari berdo’a  Ya Allah Lindungilah negeriku ini dari segala Fitnah ………
Tak sadar aku terlelap televisi lupa ku matikan   tampak di layar merah putih berkibar dan terdengar nyanyian tentang tanah air ….

Tanah air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidakkan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai


Walaupun banyak negeri kujalani
yang mahsyur permai di kata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Disanalah ku rasa senang
Tanah ku tak kulupakan
Engkau kubanggakan


Tanah air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidakkan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai



Selasa, 24 Juni 2014

Bismillahirrahmaannirrohiim
Hemmm , tinggal beberapa hari lagi Ramadhan …  .  Kali ini Puasa Ramadhan  akan penuh warna .. , Indonesia akan melakukan pemilihan umum untuk presiden , piala dunia sepak bola sudah masuk babak 16 besar , anak anak libur sekolah. 

Satu pertanyaan .. sudahkah kita mempersiapkan diri… ,

Di social media hampir separuhnya meributkan calon presidenku.. yang terbaik.., separuhnya lagi tim Negara mana yang terbaik , …
Sudahkah kita mempersiapkan diri menjadi yang terbaik… ! .

Hem, sudahkah Kita mulai buka buka buku bagaimanakah niat yang baik dan benar dalam memasuki Ramadhan  ?

Semoga kita tidak lupa …

Mari berdo’a semoga kita bertemu dengan Ramadhan tahun ini  karena kita masih menunggu beberapa hari lagi… , semoga kita bisa melalui Ramadhan tahun ini dengan baik dan benar , menjadi orang yang diampuni segala dosa dosa kita dan menjadi orang bertakwa..,
Dan jangan lupa berdo’a supaya kita dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun yang akan datang …


Aamiin