Jumat, 19 Agustus 2011

Pagi Ku Sapa




Haiii….rembulan  wajahmu memucat
Kau seperti  lelah ….
Haiii…. Embun   dinginmu menusuk tulangku… !
Kau tetap turun ….
Haiiii  Mentari … sinarmu hangat …
Kau selalu terbit……
Haiiii pagi… kusapa kau…
Berikan aku senyum..

Rabu, 17 Agustus 2011

….Merdeka ….




“Merdekaaaaa… ! “  teriakan ini bergema 66 tahun yang lalu . Gema itu sampai saat ini masih kencang terdengar .”Merdekaaaa…… “  waktu itu diteriakkan dengan penuh kebanggaan sampai sekarang pun ucapan itu akan tetap diteriakkan dengan penuh kebanggaan.
Banyak yang mulai meragukan tentang kemerdekaan di Indonesia , banyak yang menyatakan kita belum merdeka . Sedih aku membacanya bahkan surat kabarpun menuliskan keraguan tentang kemerdekaan seolah –olah para pejuang yang gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan dahulu tidak ada sama sekali . Selalu di dengung-dengungkan di telinga kita bahwa kita ini masih terjajah.  
Menghargai sebuah kemerdekaan bukanlah dengan saling menyalahkan. Menghargai sebuah kemerdekaan bukanlah dengan saling menghujat , sudahkah kita lupa? Bahwa dulu ketika Indonesia masih terkotak-kotak amat sulit para pejuang itu memperjuangkan kemerdekaan  (yang sekarang banyak yang berkata bahwa kita belum merdeka)  , begitu mudahnya penjajah mengadu domba kita. Dan sepertinya kita sekarang tidak perlu penjajah untuk mengadu domba tetapi kitalah prakarsa untuk runtuhnya   sebuah kemerdekaan.
Kita sudah lupa bahwa dahulu kakek buyut dan nenek buyut, kakek & nenek , atau bahkan para orang tua kita baru berhasil memperjuangkan  kemerdekaan dengan melepaskan diri dari perasaan terkotak-kotak .
Ingatlah kemerdekaan tidak sama dengan kemakmuran tetapi hanyalah pintu gerbang seperti dinyatakan oleh para pejuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Kita tidak perlu berdarah-darah berperang melawan penjajah seperti mereka , kita hanya perlu menyamakan pikiran  untuk mencapai kemakmuran itu. Tidak seperti sekarang sebagian besar merasa terjajah dengan perasaan karena melihat kesuksesan orang lain , dan sebagian lainnya keblinger dengan kesuksesannya sepertinya bahwa kesuksesan itu adalah hasil upaya dia sendiri. Kita lupa bahwa kita ini dibukakan pintu oleh pendahulu kita,  jika tidak kita akan terkunci dalam “penjajahan”.
Kemerdekaan bukan berarti boleh melakukan sekehendak hati kita, kalau hanya itu seharusnya kita sudah sangat merdeka , dahulu kita tidak berani mencaci maki presiden dengan seenaknya, sekarang  sudah biasa orang mencaci maki presiden tanpa takut, atau berdemo dengan suka-suka  , jika hanya itu arti merdeka seharusnya kita menyatakan kita sudah lebih merdeka dari pada dulu, tapi kenyataannya tetap saja ada pernyataan “kita belum merdeka!”. Lantas apa yang ingin disampaikan ? jika kemerdekaan diartikan segala sesuatunya tersedia dan tidak ada lagi larangan-larangan itu artinya “kemakmuran” bukan kemerdekaan, dan untuk mencapai  “kemakmuran” itu juga perlu perjuangan tidak langsung jadi secara instan.
Kita bukanlah bangsa yang cengeng yang hanya bisa merajuk, para pendahulu kita sudah membuktikan pada kita dengan berjuang 350 tahun didalamnya ada kegagalan ada keberhasilan. Dan kita baru berjuang 66 tahun, mungkin sekarang boleh dikatakan belum berhasil (jangan dibaca  “gagal”) tapi perjuangan itu tidak terhenti pada saat hari kemerdekaan saja.  kalau itu pandanganmu sobat ketahuilah kita telah merdeka   pada tanggal 17 Agustus 1945 ,66 tahun yang lalu.
Kemerdekaan itu seharusnya berarti saling menghargai , Pemerintah menghargai rakyatnya, rakyat menghargai pemerintahnya, antar suku satu sama lain menghargai , antar agama satu sama lain saling menghargai , semua perbedaan saling menghargai.
Kemerdekaan itu seharusnya berarti perjuangan tiada henti …………        

Senin, 08 Agustus 2011

…Mercon Bumbung …



Bum….. bum…..Bleng….blar.. bum…. Horee..horeee…., ceria sekali anak-anak bermain .  sebentuk meriam dari bambu .. berjajar di lapangan depan halaman  rumah .  .. blaar …. Terlempar .. bekas kaleng susu  sampai kesebrang jalan ,  salah seorang segera berlari mengambil kembali kaleng itu… dan bergegas kembali.  Blar….. kembali kaleng bekas terlontar .. kali ini lebih jauh.
Tak jarang kami meletakkan “mercon bumbung” ini tersembunyi seperti layaknya tentara dan mulai mengembangkan sifat usil kami secara alamiah . Sering kali ibu –ibu yang sedang berjalan pergi kepasar “krempyeng” terloncat kaget dan melepaskan sumpah serapah  kepada kami , atau tukang becak yang mengangkat kedua kakinya keatas karena kaget … kami tertawa terbahak–bahak di pinggir jalan .  dan biasanya kami menghitung-hitung  jumlah korban kami.
Dan tak jarang pula kami harus berlarian menyelamatkan diri dari kejaran orang-orang yang terkena ulah keisengan kami, dan harus pula kami merelakan meriam bamboo kami dibanting hingga pecah.
“mercon bumbung” , begitu kami menyebutnya. Dibuat dari bambu .. biasanya bamboo betung sebagai pilihan, karena lebih tebal dan kuat dan resiko pecah lebih kecil.  Batas batas buku ruas bamboo dibuang dan diberi lubang kecil untuk tempat meletakkan api agar mercon ini berbunyi . didalamnya diisi minyak tanah atau kalau ingin  keras diganti karbit , sederhana  tapi….. blaar… bunyinya..
Terkadang kita harus merelakan alis atau bulu mata kita menjadi keriting karena terbakar pada saat meniup asap sisa-sisa letusan…. Dan .. disitulah letak keceriaan kita … biasanya korban menjadi bahan olok-olok .. dan menjadi awal berakhirnya permainan mercon bumbung ini, karena muncul permainan baru yaitu perkelahian yang biasanya tanpa di komando kelompok akan terbagi menjadi dua  dengan sendirinya.
Rutinitas ini biasanya dimulai pada bulan Ramadhan kegiatan yang sangat menyenangkan dan dapat menghilangkan rasa haus dan lapar disiang hari sampai dengan sore hari , dan semoga tidak menjadi pengurang pahala kami….
Jaman dulu semua permainan ini dapat kita buat sendiri dan tanpa biaya .., masih banyak orang-orang yang ikhlas memberikan bamboo dikebunnya  jika diminta, bahkan ditebangkan oleh pemiliknya.
Hari ini dikoran aku melihat photo anak-anak bermain mercon bumbung itu lagi … , sebuah kenangan lama yang sayang untuk dilupakan.., tapi kali ini bukan kami yang bermain …  tapi keceriaan mereka terlihat masih sama dengan keceriaan kami …..
……. Semoga ……



Malang , 8 agustus 2011

Teruntuk.. bapak-bapak, ibu-ibu, kakak, adik .., pak becak ., penjual –penjual makanan yang terkena kejahilan kami saat itu  memafkan kami . …

Kamis, 04 Agustus 2011

…. Sore itu …


Warna merah jingga semburat di langit .. matahari tinggal sepenggalah .. siap meluncur jatuh  .. menghujam  kebalik cakrawala .  Kulihat seseorang menatap lurus tak berkedip seperti patung  ingin rasanya aku mengusiknya.  Hiruk pikuk disekitarnya seolah tidak terdengar olehnya. Tiba–tiba dia berdiri dan melangkah   pergi .  tapak kakinya membekas di pasir dan beberapa tersapu ombak yang pecah di pinggir pantai Natsepa *).
Kembali dia berhenti…,  kali ini dia berdiri tepat di tengah hamparan pasir pantai,  dihadapkan badannya kearah laut…, lalu dia berteriak sekencang-kencangnya … “haaaaaaaaah” . sementara langit semakin berwarna abu abu kehitaman tinggal sisa warna merah bulat matahari yang siap menghilang bersembunyi di balik horizon.
Air pasang mulai naik….., menghapus semua jejak tapak kakinya , perlahan dia berbalik …, hiruk pikuk disekitarnya telah lenyap .., matahari hampir terbenam .. ,bentuknya tinggal separuh lingkaran .. tampak dibatas pandang ..   , langkahnya menginjak air pasang , celananya yang tergulung menjadi basah. Wajahnya tetap tidak berubah….
Matahari telah hilang warna hitam dilangit memangsa warna merah yang tersisa , tinggal silhouette yang dapat kulihat , bayang-bayangnya berjalan lurus semakin jauh dariku hingga lenyap di telan gelap …
“kawan .. adakah .. kau rindu kampung halaman seperti aku …, adakah kau rindu masakan bunda yang selalu menari dilidahmu ketika berbuka, ataukah petuah –petuah ayah yang terus terngiang sampai engkau besar.  Aku hanya menduga kawan .. engkau pasti merindukan sesuatu….
Adzan maghrib berkumandang ..sayup sayup .. memasuki rongga telingaku … terucap syukur kepadamu ya Allah dan ku panjatkan do’a kepadamu “allahumma laka shumtu wa bika amantu wa 'alaa rizqika afthartu birahmatika ya arhamarrohimin” , lalu .. kuambil segelas air dan kuminum seteguk…. “segaaaarnya…….”

Malang ,  05 agustus 2011
Sebuah kerinduanku pada kota Ambon tempat aku pernah bertugas .
Teruntuk teman-temanku yang pernah tugas di rantau orang .
juga teruntuk teman-temanku yang rindu kampung halaman.

*) Natsepa adalah nama sebuah pantai di ambon yang sangat indah dengan pasir putih yang tebal…

Rabu, 03 Agustus 2011

" ARBANAT "


.... ngiiiieeeek… ngooooook…. Ngeekk ….ngooook  suara  khas penjual  “arbanat” terdengar di telingaku . “kakak … adeeek ….”, panggilku.  “yaa yayaaaah “ , teriak mereka berbarengan . “ sini nak !”, balasku . mereka berlarian adu cepat untuk sampai didekatku .  sementara aku memanggil penjual “arbanat” di depan rumahku , sebuah hal langka .. karena “arbanat “ ini seperti sudah punah  dan bahkan  orang – orang sudah jarang menyebutnya, apalagi menikmatinya.    
                “apa itu yah ? “ , Tanya anakku Rizki . “arbanat” , jawabku pendek , sementara itu penjual arbanat melayani kami dengan lincah , diambil olehnya garpu bengkok dan khas alat untuk mengambil “arbanat” dari dalam kaleng  arbanat , “hmmm masih seperti dulu !“  , kataku dalam hati  . kuperhatikan gaya penjual arbanat itu ada handuk kecil di leher , dan kaleng kotaknya berwarna biru muda tergantung dibadannya yang memiliki dua penutup, yang satu lubang untuk “arbanat “ sementara penutup satunya untuk menyimpan uang. “tetap seperti dulu !” , dan tak lupa alat music berdawai dibawah berupa kaleng dengan pegangan kayu dan alat gesek seperti biola serta kulit kerang berwarna putih terbalik untuk mengganjal dawainya, sebuah trade mark ”penjual arbanat”   .
                “apa itu yah ? “ , kali ini anakku Puti Intan yang bertanya matanya memandang dengan penasaran dan sesekali melongok kedalam kaleng “arbanat”  seperti hendak menghilangkan rasa ingintahu-nya . “arbanat !” jawabku pendek . “ mau beli  berapa pak ? “ , Tanya penjual arbanat kepadaku . “kalau satu wadah berapa pak “ aku balik bertanya . “seribu rupiah pak ! “ jawabnya . “beli tiga ya pak !” , jawabku.   “SERIBU RUPIAH !” kataku dalam hati , sebuah harga yang sangat murah untuk saat ini,   tapi mungkin itu sebuah angka yang sangat berarti bagi bapak penjual “arbanat “ itu .
                Penjual arbanat mengambil potongan kertas Koran yang telah dipotong dengan ukuran tertentu dan mulai memindahkan arbanat keatas potongan kertas Koran itu. “masih seperti dulu !” , kataku dalam hati , “tidak berubah !” , sekali lagi kataku dalam hati . tiba tiba terbersit dalam pikiranku untuk bertanya dan akhirnya aku bertanya juga. “kalau satu kaleng pak ? “ tanyaku , “lima puluh ribu rupiah pak !” jawabnya . dan akhirnya kuputuskan untuk membeli satu kaleng .
“adee minta bunda kaleng bekas biscuit gih!”  pintaku kepada anakku Rizki . segera anakku berbalik dan berlari kecil masuk kedalam rumah , dan tak lama kemudian kembali dengan kaleng biscuit kosong .
                Dengan cekatan penjual arbanat memindahkan  “arbanat “ kedalam kaleng biscuit yang di bawa anakku, dan akhirnya semua berpindah tempat.  Penjual arbanat berlalu. Mulailah anak-anakku memberondongku dengan pertanyaan –pertanyaan “apa itu yah ? “, Tanya sang kakak sekali lagi “arbanat!”  jawabku. “lha iyaaa arbanat itu apaaa? “ , kali ini adeknya yang bertanya dan terlihat mulai geregetan dengan jawaban –jawaban pendekku . “ coba aja deh !” kataku ,  dengan sedikit kesal sang adek  memasukkan tangannya kedalam kaleng dan   mengambil  sedikit  “arbanat “  ditangannya dan memasukkan kedalam mulutnya . sepontan dia berkata “hmmmm sedaaap!”  . melihat adeknya berteriak “sedaap!” sang kakak langsung merebut kaleng arbanat dari tangan adiknya dan mengambil dengan ukuran yang sama , lalu memasukkan kemulutnya “hmmm sedaaaap! Maniiis.. !” teriaknya .
                Aku mulai bercerita kepada anakku  tentang “arbanat” ini kepada mereka, kuceritakan kepadanya bahwa dulu ini adalah salah jajanan favorit anak –anak seumuran ayahnya , kuceritakan pada mereka  bahwa ini sejenis “arum manis “ yang biasa dijual didalam plastic yang sering mereka beli, kuceritakan pada mereka  betapa banyak jajanan  yang enak di masa itu .
                Keesokan harinya , rupanya kedua anakku membawa “arbanat”  ini kesekolah   dan dibaginya kepada teman –temannya . ketika pulang dengan bangganya mereka bercerita  “ayah.. ayah …ayaaah !” , teriak sang adek . “ yaaa… … “ , jawabku. “ temen-temen suka lho yah, arbanatnya” , kata si adek “ iya yah ! , temen kakak juga suka tuh !” sahut kakaknya . “lho memangnya kalian bawa kesekolah ?” tanyaku . “iyaaaa  yaah!” jawabnya bersamaan. “ mereka , banyak yang tidak tahu yah …!”.seru sang kakak. “lalu….. “ tanyaku . “ya kaka jelasin kalo ini namanya “arbanat” jajanan jaman dulu “ jawabnya bangga. “ Hhmmmm… ternyata mengenalkan jajanan tempo dulu  bisa membuat mereka bangga ..”.
                “ayah … ada enggak jajanan jaman dulu lagi … ayo cari dong yah ,… certain lagi yaaa , kaya’ arbanat ini yaaa … yaaaa.. ya.. yah yaaa.. “ pinta anakku.  “ Nanti ya nak , ayah cari dulu nanti kalo ketemu ayah cerita lagi”, jawabku .
                “berdo’a ya nak.. semoga nanti ayah ketemu penjual gulali … ! dan pasti ayah akan cerita lagi ………”


Malang ,  4 Agustus 2011
Untuk anak-anakku  dan teman temanku semua
Semoga cerita ini mengingatkan masa-masa kecil kita
Dan membuat kita ingat akan orang tua kita

Selasa, 02 Agustus 2011

tik tok




tik .. tok ..tik ..tok....
aaah.... bunyi tukang bakso.....
hm... jadi .. lapaaar...

tik ..tok ..tik.. tok
aaahh..bunyi sendal kayu...
hmm pergi berwudhu .....

tik tok tik tok......
aaaah bunyi jam dinding berdetaaak....
hhmmmm jadi ingat.... tentang.. waktu.. !