Rabu, 03 Agustus 2011

" ARBANAT "


.... ngiiiieeeek… ngooooook…. Ngeekk ….ngooook  suara  khas penjual  “arbanat” terdengar di telingaku . “kakak … adeeek ….”, panggilku.  “yaa yayaaaah “ , teriak mereka berbarengan . “ sini nak !”, balasku . mereka berlarian adu cepat untuk sampai didekatku .  sementara aku memanggil penjual “arbanat” di depan rumahku , sebuah hal langka .. karena “arbanat “ ini seperti sudah punah  dan bahkan  orang – orang sudah jarang menyebutnya, apalagi menikmatinya.    
                “apa itu yah ? “ , Tanya anakku Rizki . “arbanat” , jawabku pendek , sementara itu penjual arbanat melayani kami dengan lincah , diambil olehnya garpu bengkok dan khas alat untuk mengambil “arbanat” dari dalam kaleng  arbanat , “hmmm masih seperti dulu !“  , kataku dalam hati  . kuperhatikan gaya penjual arbanat itu ada handuk kecil di leher , dan kaleng kotaknya berwarna biru muda tergantung dibadannya yang memiliki dua penutup, yang satu lubang untuk “arbanat “ sementara penutup satunya untuk menyimpan uang. “tetap seperti dulu !” , dan tak lupa alat music berdawai dibawah berupa kaleng dengan pegangan kayu dan alat gesek seperti biola serta kulit kerang berwarna putih terbalik untuk mengganjal dawainya, sebuah trade mark ”penjual arbanat”   .
                “apa itu yah ? “ , kali ini anakku Puti Intan yang bertanya matanya memandang dengan penasaran dan sesekali melongok kedalam kaleng “arbanat”  seperti hendak menghilangkan rasa ingintahu-nya . “arbanat !” jawabku pendek . “ mau beli  berapa pak ? “ , Tanya penjual arbanat kepadaku . “kalau satu wadah berapa pak “ aku balik bertanya . “seribu rupiah pak ! “ jawabnya . “beli tiga ya pak !” , jawabku.   “SERIBU RUPIAH !” kataku dalam hati , sebuah harga yang sangat murah untuk saat ini,   tapi mungkin itu sebuah angka yang sangat berarti bagi bapak penjual “arbanat “ itu .
                Penjual arbanat mengambil potongan kertas Koran yang telah dipotong dengan ukuran tertentu dan mulai memindahkan arbanat keatas potongan kertas Koran itu. “masih seperti dulu !” , kataku dalam hati , “tidak berubah !” , sekali lagi kataku dalam hati . tiba tiba terbersit dalam pikiranku untuk bertanya dan akhirnya aku bertanya juga. “kalau satu kaleng pak ? “ tanyaku , “lima puluh ribu rupiah pak !” jawabnya . dan akhirnya kuputuskan untuk membeli satu kaleng .
“adee minta bunda kaleng bekas biscuit gih!”  pintaku kepada anakku Rizki . segera anakku berbalik dan berlari kecil masuk kedalam rumah , dan tak lama kemudian kembali dengan kaleng biscuit kosong .
                Dengan cekatan penjual arbanat memindahkan  “arbanat “ kedalam kaleng biscuit yang di bawa anakku, dan akhirnya semua berpindah tempat.  Penjual arbanat berlalu. Mulailah anak-anakku memberondongku dengan pertanyaan –pertanyaan “apa itu yah ? “, Tanya sang kakak sekali lagi “arbanat!”  jawabku. “lha iyaaa arbanat itu apaaa? “ , kali ini adeknya yang bertanya dan terlihat mulai geregetan dengan jawaban –jawaban pendekku . “ coba aja deh !” kataku ,  dengan sedikit kesal sang adek  memasukkan tangannya kedalam kaleng dan   mengambil  sedikit  “arbanat “  ditangannya dan memasukkan kedalam mulutnya . sepontan dia berkata “hmmmm sedaaap!”  . melihat adeknya berteriak “sedaap!” sang kakak langsung merebut kaleng arbanat dari tangan adiknya dan mengambil dengan ukuran yang sama , lalu memasukkan kemulutnya “hmmm sedaaaap! Maniiis.. !” teriaknya .
                Aku mulai bercerita kepada anakku  tentang “arbanat” ini kepada mereka, kuceritakan kepadanya bahwa dulu ini adalah salah jajanan favorit anak –anak seumuran ayahnya , kuceritakan pada mereka  bahwa ini sejenis “arum manis “ yang biasa dijual didalam plastic yang sering mereka beli, kuceritakan pada mereka  betapa banyak jajanan  yang enak di masa itu .
                Keesokan harinya , rupanya kedua anakku membawa “arbanat”  ini kesekolah   dan dibaginya kepada teman –temannya . ketika pulang dengan bangganya mereka bercerita  “ayah.. ayah …ayaaah !” , teriak sang adek . “ yaaa… … “ , jawabku. “ temen-temen suka lho yah, arbanatnya” , kata si adek “ iya yah ! , temen kakak juga suka tuh !” sahut kakaknya . “lho memangnya kalian bawa kesekolah ?” tanyaku . “iyaaaa  yaah!” jawabnya bersamaan. “ mereka , banyak yang tidak tahu yah …!”.seru sang kakak. “lalu….. “ tanyaku . “ya kaka jelasin kalo ini namanya “arbanat” jajanan jaman dulu “ jawabnya bangga. “ Hhmmmm… ternyata mengenalkan jajanan tempo dulu  bisa membuat mereka bangga ..”.
                “ayah … ada enggak jajanan jaman dulu lagi … ayo cari dong yah ,… certain lagi yaaa , kaya’ arbanat ini yaaa … yaaaa.. ya.. yah yaaa.. “ pinta anakku.  “ Nanti ya nak , ayah cari dulu nanti kalo ketemu ayah cerita lagi”, jawabku .
                “berdo’a ya nak.. semoga nanti ayah ketemu penjual gulali … ! dan pasti ayah akan cerita lagi ………”


Malang ,  4 Agustus 2011
Untuk anak-anakku  dan teman temanku semua
Semoga cerita ini mengingatkan masa-masa kecil kita
Dan membuat kita ingat akan orang tua kita

3 komentar:

  1. Salam kenal Om :) Saya Ira. Saya terdampar di blog ini saat mencari info tentang rambut nenek. Saya kangen Om, sudah lama sekali gak makan rambut nenek. Om tinggal di malang daerah mana? Saya biasanya 2 bulan sekali ke Malang, ke daerah kampus Unmuh dan daerah Blimbing

    BalasHapus
  2. Haha Rambut Nenek itu lah yang di sebut arbanat ..semoga cerita ini bisa menpghilangpkan kangen kamu
    .

    BalasHapus
  3. …..BERBAGI INFO TNTANG ORDER ARBANAT/RAMBUT NENEK DAN ARUM MANIS….
    …hubungi Dina / 085785542221 untuk memesan,,
    ..harga mulai Rp 7.000,- minimal order 5 pcs untuk daerah luar kota malang.

    BalasHapus